Sabtu, 22 Februari 2014

Ayah, Aku Butuh dan Rindu Nasehatmu

Ayah,
Semangat hidup yang pernah engkau ceritakan kepadaku tak dapat aku lakukan untuk saat ini. Masalah yang aku alami saat ini memanglah berat dari semua semangat yang pernah engkau ceritakan kepadaku dalam mengarungi hidup ini. Ini bukan masalah fisik atau pun cinta, tapi ini masalah hati. Hati yang aku miliki sekarang sudah sangat jauh dari ajaran agama yang pernah engkau ajarkan ketika aku masih kecil dulu.

Ayah,
Sekarang saya berada jauh dari rumah dan kampung halaman tempat dimana aku dilahirkan, aku berangkat ketempat ini atas restu yang engkau berikan dan harapan yang engkau gantungkan kepadaku. Tapi, sekarang aku telah mengecewakanmu, harapan yang telah engkau gantungkan kepadaku kini sudah hampir putus. Aku tak tahu dengan cara apa agar tali harapanmu ini masih masih tetap bertahan hingga aku menggapai mimpiku dan mimpimu.

Ayah,
Ingin rasanya aku kembali kerumah, menangis di pangkuanmu dan berkata "Maafkan aku". Tapi itu tak dapat aku lakukan. Kini engkau telah tiada, ibu pun juga kini telah tiada. Aku tak dapat berbicara kepada orang lain karena sangat sulit untuk menemukan orang yang dapat dipercaya pada saat ini.

Ayah,
Jujur aku rindu Nasehatmu, ceritamu dalam mengarungi hidup dan semangat yang engkau miliki.
Ayah,
Andai waktu dapat ku putar kembali, aku akan tetap menjadi seorang anak yang akan selalu berada disampingmu.
Ayah,
Aku tahu bukan ini yang engkau inginkan, karena hanya engkau yang dapat mengerti apa yang aku rasakan.
Ayah,
ajaranmu akan selalu ku kenang, dan harapan yang engkau gantungkan padaku tak akan pernah ku biarkan lepas dan akan kugapai untukmu, Dan semua masalah yang aku alami sekarang akan aku selesaikan dengan baik tanpa harus mengeluh lagi.

Ayah,
Itulah Janjiku, Janji seorang anak Laki-laki. Janji seorang anak yang bermimpi menjadi Menteri Pertanian.